“Buk, aku tuh nggak mau masuk Aksel, aku nggak sanggup
bersaing. Aku masih terlalu muda, Buk!”
“Buk, aku tuh keterimanya di UI. UI itu cita-citaku, aku
nggak mau di STAN, Buk!”
“Aku nggak mau, Buk! Aku nggak mau!”
Mungkin agaknya seperti itu kalimatku di beberapa tahun lalu.
Di awal ketika aku masuk SMA dan masuk kuliah dulu. Penuh akan PENOLAKAN,
PERTENTANGAN, dan KEKECEWAAN, ahh lupakan. Namun itu di beberapa tahun lalu silam, sudah cukup lama,
hingga akhirnya seiring pendewasaan aku dapat berdamai dengan keadaan. Hingga
akhirnya semua kecewa sirna, semua penyesalan masa lalu justru aku sesalkan
mengapa pernah menjadi penyesalan. Hingga akhirnya semua itu berubah menjadi
syukur! SYUKUR TIADA TARA pada Allah SWT.
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik
bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” – QS. Al Baqarah : 216.
Agaknya kala itu aku memang masih terlalu bocah untuk
mengerti arti bersyukur. Emosi yang masih terlalu labil dan jiwa yang masih
rapuh. Namun kini rasannya mulai kupahami rahasia-rahasia indah Allah yang
telah digariskan-Nya padaku, yang aku yakin masih akan terus berlanjut hingga
nyawa sampai di ujung kerongkonganku. Semoga kita selalu menjadi insan yang tak
henti menghiasi lisan dengan syukur.
.............................................................................................................
Waktu SMA dulu aku masuk di Program Akselerasi (Percepatan),
hanya perlu 2 tahun menamatkan studi. Kakak kelas SMP-ku ada yang masuk program
ini, dan jelas menjadi panutan bagi adik-adik kelasnya. Tapi sama sekali Aksel
tak menarik minatku sekecil ujung kukupun kala itu. Lagi pula Ayahku selalu
bilang, “Kamu masih terlalu muda, tak perlu Aksel, yang biasa-biasa saja.
Toh lulusmu juga masih muda walau bukan Aksel.”. Aku memang lebih muda
setahun dibanding angkatan normalku, dan memang aku tidak memupuk minat dan
ketertarikan di Aksel (sama sekali). Namun, semua itu berubah saat Allah
menuliskan rencana besar tak terduga dalam hidupku.
Saat SMP aku tergolong anak yang biasa-biasa aja, yang jauh
lebih pintar dariku pun banyak. Saat lulus pun aku bukan yang terbaik. Hingga
tibalah masa pendaftaran SMA. Kala itu
di SMA yang akhirnya menjadi almamaterku ini ada 3 program pilihan :
Akselerasi, RSBI, dan Reguler. Tentunya seleksi tersulit adalah bagi mereka
yang mendaftar Akselerasi. Rangkaian seleksi yang amat kompleks mulai dari seleksi
nilai rapot, nilai UN, wawancara, tes IQ, dll.
Lantas aku ikut seleksi Aksel ini? Tentu tidak!
Aku tak menaruh minat sedikitpun padannya. Yang aku ambil
adalah formulir RSBI. Seleksinya tidak berbeda jauh, namun standar nilainya masih
di bawah Aksel tentunya. Aku optimis masuk RSBI kala itu. Tapi mungkin Allah
telah menuliskan tahun 2008 itu adalah tahun penuh kenangan bagiku. Saat aku di
rumah (sepulang MOS dari SMA lain yang sebelumnya aku masuk lewat jalur rapot)
tergeletaklah secarik kertas persetujuan mengikuti Program Akselerasi. Reaksiku?
Jelas kaget dan bertanya-tanya apa maksudnya.
“Ini maksudnya surat buat apa sih? Kok ada Akselnya?”
“Kamu masuknya Aksel. Kata guru BP-nya nilai tesmu bisa
masuk di Aksel.”, balas Ayahku.
Hati ini berteriak. Aku tak mau, sungguh aku tak mau kala
itu. Rasa kesal dan sedih bercampur jadi satu. Ibuku tentunya memberi
penjelasan padaku. Namun, aku masih tak terima, aku masih geram. Aku tak mau,
aku hanya menangis di kamar. Aku merasa ‘terpaksa’ masuk Aksel karena Ayahku
dan juga guru BP-ku. Kesal? Tentunya kesal saat itu.
“Buk, aku tuh nggak mau masuk Aksel, aku nggak sanggup
bersaing. Aku masih terlalu muda, Buk!
Apa daya, aku tak terlalu berani melawan orang tua. Kujalani hari-hari di Aksel dengan setengah hati. Aku
merasa tak nyaman dengan teman-teman yang aku rasa terlalu superior untuk
ukuranku, sedangkan aku hanya anak yang biasa-biasa saja. Hari demi hari,
hingga 2 tahun berlalu, kulewati dengan penuh tekanan dan kekecewaan. Aku
sempat depresi dan terpuruk. Aku tak suka IPA, aku dipaksa masuk Aksel dan
terpaksa harus IPA. Nilai-nilaiku hancur, aku bukan aku yang sama seperti SMP
dulu. Aku merasa membenci tiap sudut ruangan kelasku, aku menyesal kala itu.
Saat UN pun aku harus jatuh-bangun mengejar ketertinggalanku.
Tak luput tangis sering mengiringi malamku. Walaupun alhamdulillah aku
masih dianugerahi kelulusan oleh Allah dan nilai yang cukup memuaskan. Ah,
sayangnya belum selesai sampai di situ, perjuangan selanjutnya lebih berat lagi
: masuk perguruan tinggi.
Aku anak IPA, tapi aku sangat tidak suka dengan IPA. Alhasil
aku harus banting setir pada IPS merebut lahan kawan-kawan IPS-ku yang lain (maafkan
aku kawan). Aku harus mulai belajar IPS dari nol, benar-benar dari nol. Tapi
aku menikmati belajar IPS ini, sungguh menikmati dibandingkan dengan belajar
IPA di kelas dulu.
Walaupun semua telah kupersiapkan sejak jauh hari, lagi-lagi
aku harus gagal dalam banyak seleksi. Tekanan terasa amat berat dalam hidupku.
Aku nyaris putus asa dan menyerah sampai di sini. Apalagi kalau membayangkan apa
yang akan dikatakan orang, “Masa anak Aksel tak bisa lolos ujian?”. Kala
itu, usiaku belum 16, masih terlalu labil dan aku masih belum paham betul arti
bersyukur.
Allah sungguh Maha Pengasih. Lagi-lagi kesempatan itu datang,
tidak hanya satu, namun dua. UI dan STAN. Tak kusia-siakan kesempatan ini
tentunya. Aku gugup karena kesempatan semakin kecil, sedangkan jurusan yang aku
minati hanya menerima 10 orang dari sekian pendaftar. Dan STAN? Ah, kala itu
modalnya hanya cuma-cuma. Aku memang suka (sekali) belajar ekonomi, tapi STAN
bukan tujuan utamaku. Layaknya iseng-iseng berhadiah, aku mendaftar STAN.
Akhirnya, setelah sekian kali gagal dalam banyak ujian,
akupun diterima di UI. Alhamdulillah rasanya bangga tiada terkira,
terutama Ibu karena beliau yang selama ini paling sedih melihatku murung selama
masa pecarian sekolah yang tak kunjung dapat. Perjuangan, aku merasakan betul hakikat dari
berjuang kala itu.
UI adalah mimpi masa kecilku, dari kecil, dari TK bahkan. UI
adalah cita-citaku, namun kala langkah itu hanya tinggal sepelemparan batu ternyata
sudah ada garisan takdir lain dari Allah untukku. Aku diterima STAN (yang hanya
bermodal coba-coba). Kelulusan ini sempat kurahasiakan dari Ayahku. Tapi waktu
adalah waktu, waktu juga yang mengungkap semua rahasiaku. Ayah akhirnya tahu
dan besar harapnya serta Ibuku kalaulah aku sudi melepas UI-ku.
Buk, aku tuh keterimanya di UI. UI itu cita-citaku, aku
nggak mau di STAN, Buk!”
(bersambung)

0 komentar:
Posting Komentar