Senin, 22 September 2014

If I Weren’t Here... : Aksel dan STAN (1)

0

“Buk, aku tuh nggak mau masuk Aksel, aku nggak sanggup bersaing. Aku masih terlalu muda, Buk!”

“Buk, aku tuh keterimanya di UI. UI itu cita-citaku, aku nggak mau di STAN, Buk!”

“Aku nggak mau, Buk! Aku nggak mau!”


Mungkin agaknya seperti itu kalimatku di beberapa tahun lalu. Di awal ketika aku masuk SMA dan masuk kuliah dulu. Penuh akan PENOLAKAN, PERTENTANGAN, dan KEKECEWAAN, ahh lupakan. Namun itu di beberapa tahun lalu silam, sudah cukup lama, hingga akhirnya seiring pendewasaan aku dapat berdamai dengan keadaan. Hingga akhirnya semua kecewa sirna, semua penyesalan masa lalu justru aku sesalkan mengapa pernah menjadi penyesalan. Hingga akhirnya semua itu berubah menjadi syukur! SYUKUR TIADA TARA pada Allah SWT.

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”QS. Al Baqarah : 216.

Agaknya kala itu aku memang masih terlalu bocah untuk mengerti arti bersyukur. Emosi yang masih terlalu labil dan jiwa yang masih rapuh. Namun kini rasannya mulai kupahami rahasia-rahasia indah Allah yang telah digariskan-Nya padaku, yang aku yakin masih akan terus berlanjut hingga nyawa sampai di ujung kerongkonganku. Semoga kita selalu menjadi insan yang tak henti menghiasi lisan dengan syukur.


.............................................................................................................


Waktu SMA dulu aku masuk di Program Akselerasi (Percepatan), hanya perlu 2 tahun menamatkan studi. Kakak kelas SMP-ku ada yang masuk program ini, dan jelas menjadi panutan bagi adik-adik kelasnya. Tapi sama sekali Aksel tak menarik minatku sekecil ujung kukupun kala itu. Lagi pula Ayahku selalu bilang, “Kamu masih terlalu muda, tak perlu Aksel, yang biasa-biasa saja. Toh lulusmu juga masih muda walau bukan Aksel.”. Aku memang lebih muda setahun dibanding angkatan normalku, dan memang aku tidak memupuk minat dan ketertarikan di Aksel (sama sekali). Namun, semua itu berubah saat Allah menuliskan rencana besar tak terduga dalam hidupku.

Saat SMP aku tergolong anak yang biasa-biasa aja, yang jauh lebih pintar dariku pun banyak. Saat lulus pun aku bukan yang terbaik. Hingga tibalah masa pendaftaran SMA.  Kala itu di SMA yang akhirnya menjadi almamaterku ini ada 3 program pilihan : Akselerasi, RSBI, dan Reguler. Tentunya seleksi tersulit adalah bagi mereka yang mendaftar Akselerasi. Rangkaian seleksi yang amat kompleks mulai dari seleksi nilai rapot, nilai UN, wawancara, tes IQ, dll.

Lantas aku ikut seleksi Aksel ini? Tentu tidak!

Aku tak menaruh minat sedikitpun padannya. Yang aku ambil adalah formulir RSBI. Seleksinya tidak berbeda jauh, namun standar nilainya masih di bawah Aksel tentunya. Aku optimis masuk RSBI kala itu. Tapi mungkin Allah telah menuliskan tahun 2008 itu adalah tahun penuh kenangan bagiku. Saat aku di rumah (sepulang MOS dari SMA lain yang sebelumnya aku masuk lewat jalur rapot) tergeletaklah secarik kertas persetujuan mengikuti Program Akselerasi. Reaksiku? Jelas kaget dan bertanya-tanya apa maksudnya.

“Ini maksudnya surat buat apa sih? Kok ada Akselnya?”

“Kamu masuknya Aksel. Kata guru BP-nya nilai tesmu bisa masuk di Aksel.”, balas Ayahku.

Hati ini berteriak. Aku tak mau, sungguh aku tak mau kala itu. Rasa kesal dan sedih bercampur jadi satu. Ibuku tentunya memberi penjelasan padaku. Namun, aku masih tak terima, aku masih geram. Aku tak mau, aku hanya menangis di kamar. Aku merasa ‘terpaksa’ masuk Aksel karena Ayahku dan juga guru BP-ku. Kesal? Tentunya kesal saat itu.

“Buk, aku tuh nggak mau masuk Aksel, aku nggak sanggup bersaing. Aku masih terlalu muda, Buk!

Apa daya, aku tak terlalu berani melawan orang tua. Kujalani  hari-hari di Aksel dengan setengah hati. Aku merasa tak nyaman dengan teman-teman yang aku rasa terlalu superior untuk ukuranku, sedangkan aku hanya anak yang biasa-biasa saja. Hari demi hari, hingga 2 tahun berlalu, kulewati dengan penuh tekanan dan kekecewaan. Aku sempat depresi dan terpuruk. Aku tak suka IPA, aku dipaksa masuk Aksel dan terpaksa harus IPA. Nilai-nilaiku hancur, aku bukan aku yang sama seperti SMP dulu. Aku merasa membenci tiap sudut ruangan kelasku, aku menyesal kala itu.

Saat UN pun aku harus jatuh-bangun mengejar ketertinggalanku. Tak luput tangis sering mengiringi malamku. Walaupun alhamdulillah aku masih dianugerahi kelulusan oleh Allah dan nilai yang cukup memuaskan. Ah, sayangnya belum selesai sampai di situ, perjuangan selanjutnya lebih berat lagi : masuk perguruan tinggi.

Aku anak IPA, tapi aku sangat tidak suka dengan IPA. Alhasil aku harus banting setir pada IPS merebut lahan kawan-kawan IPS-ku yang lain (maafkan aku kawan). Aku harus mulai belajar IPS dari nol, benar-benar dari nol. Tapi aku menikmati belajar IPS ini, sungguh menikmati dibandingkan dengan belajar IPA di kelas dulu.

Walaupun semua telah kupersiapkan sejak jauh hari, lagi-lagi aku harus gagal dalam banyak seleksi. Tekanan terasa amat berat dalam hidupku. Aku nyaris putus asa dan menyerah sampai di sini. Apalagi kalau membayangkan apa yang akan dikatakan orang, “Masa anak Aksel tak bisa lolos ujian?”. Kala itu, usiaku belum 16, masih terlalu labil dan aku masih belum paham betul arti bersyukur.

Allah sungguh Maha Pengasih. Lagi-lagi kesempatan itu datang, tidak hanya satu, namun dua. UI dan STAN. Tak kusia-siakan kesempatan ini tentunya. Aku gugup karena kesempatan semakin kecil, sedangkan jurusan yang aku minati hanya menerima 10 orang dari sekian pendaftar. Dan STAN? Ah, kala itu modalnya hanya cuma-cuma. Aku memang suka (sekali) belajar ekonomi, tapi STAN bukan tujuan utamaku. Layaknya iseng-iseng berhadiah, aku mendaftar STAN.

Akhirnya, setelah sekian kali gagal dalam banyak ujian, akupun diterima di UI. Alhamdulillah rasanya bangga tiada terkira, terutama Ibu karena beliau yang selama ini paling sedih melihatku murung selama masa pecarian sekolah yang tak kunjung dapat.  Perjuangan, aku merasakan betul hakikat dari berjuang kala itu.

UI adalah mimpi masa kecilku, dari kecil, dari TK bahkan. UI adalah cita-citaku, namun kala langkah itu hanya tinggal sepelemparan batu ternyata sudah ada garisan takdir lain dari Allah untukku. Aku diterima STAN (yang hanya bermodal coba-coba). Kelulusan ini sempat kurahasiakan dari Ayahku. Tapi waktu adalah waktu, waktu juga yang mengungkap semua rahasiaku. Ayah akhirnya tahu dan besar harapnya serta Ibuku kalaulah aku sudi melepas UI-ku.

Buk, aku tuh keterimanya di UI. UI itu cita-citaku, aku nggak mau di STAN, Buk!”



(bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar