Senin, 22 September 2014

BKF, Babak Baruku

1

BBB... Haha... B adalah huruf favoritku dalam alfabet, sebab B begitu banyak mengisi hidupku, mulai dari golongan darah hingga awal nama. Lupakan! Karena untuk nilai kuliah tentunya aku harus berpaling dari B dan mencintai A, haha...

Bicara soal kuliah, sejak aku dinyatakan lulus setahun yang lalu, akhirnya kabar bahagia itu datang. Alhamdulillah aku sudah penempatan saat ini. Di mana? Alhamdulillah di BKF. Apa itu? Badan Kebijakan Fiskal. *tepuk tangan*

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”. - QS. Ar Rahman : 13.

Entah ini nikmat atau ujian, namun aku lebih menghargainya sebagai nikmat yang penuh akan amanah. Semoga aku bisa menjalani hari yang semakin berat dengan niat berkeja untuk beribadah.

***

Kalau ditanya apakah aku senang? Alhamdulillah aku sangat bersyukur pada Allah SWT atas pilihan-Nya untukku. Aku terngiang masa penantian panjang (menjelang TKD) yang penuh kegalauan dengan sebuah pesan dalam doa.

“Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.”.QS. Al Mu’minun : 29.

BKF ini memang pilihanku (dari awal) sejak sebelum lulus yang telah kuproyeksikan dalam sebuah recana. I’m not a good planner, but at least I have my future and I have Allah...

Kenapa memilih BKF?
Terlalu kompleks menjelaskannya. Ini tentang sebuah preferensi pilihan kenapa ini dan kenapa itu. Bagiku memilih instansi bukan tentang bayaran, atau banyaknya dinas lapangan. Pada dasarnya kembali pada doa tadi tentunya, pertimbangan pertama adalah instansi yang jauh dari syubhat. Lalu minat dan kesiapan menanggung amanah. Ketika akhirnya mengerucut pada BKF yang menjadi pilihan itu karena dibumbui dengan mimpi-mimpiku. Apa saja mimpiku? Ah, banyak. Sehingga di kala orang lain sibuk menentukan pilihan di saat pengumuman TKD baru dirilis, aku telah memikirkannya jauh hari dan mantap dengan pilihanku.

Opportunity Cost. Tentunya ketika aku memutuskan memilih BKF pada prioritas pilihan banyak hal yang harus aku korbankan. Berkaca dari pengalaman senior bahwa BKF (katanya) instansi tersulit untuk ditembus dengan passing grade tertinggi, kuota sedikit, dan membludaknnya jumlah peminat, lantas perjuangan tak hanya sekadar doa. Di kala banyak kawanku yang menghabiskan masa penantian panjang untuk mencari nafkah via per-magang-an, aku hanya menikmati hari-hariku menuntut ilmu di Jogja dengan sedikit mencicil materi TKD. Masih mengandalkan kiriman orang tua tentunya. Alhamdulillah aku memiliki orang tua yang sangat mengerti dan mendukung.

Lantas persiapanku? Aku belajar siang-malam sejak berbulan-bulan lalu. Bahkan hal-hal teknis yang seharusnya dipelajari setelah masuk BKF sudah kupelajari jauh hari sebelumnya. Bukan bermaksud congkak, tetapi ada sebuah kutipan yang aku suka, “There is no result bertraying the effort.”. Usaha keras tak akan menghianati, tentunya diiringi dengan doa. Ketika aku mematok target TKD minimal 415 dan masuk BKF, ayal kiranya kalau lah tanpa diiringi usaha keras sedari dini.  Dan doa terutama.

Ketika aku memustukan BKF bukan berarti aku menafikkan instansi lain. Ini hanyalah tentang preferensi. Ketika kita diberikan pilihan tentu kita harus mengurutkan hal mulai dari yang diprioritaskan. Kembali ayat ini yang terkenang :

“Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.”.QS. Al Mu’minun : 29.

Aku hanya memohon supaya ditempatkan di instansi terbaik dan penuh berkah. Kalaulah BKF jodohku, maka izinkalah aku ditempatkan di sana. BKF ini telah melalui seleksi panjang dari daftar listku. Aku hanya perlu memantapkan tekad dan berusaha maksimal. Kalaulah aku terlempar di instansi lain tak masalah bagiku, toh aku tetap optimis lulus TKD. Allah pasti tahu yang terbaik bagiku. Aku tak akan menganggap sia-sia semua perjuangan yang telah aku lakukan kalau saja saat itu bukan BKF jodohku.

9 September, beberapa hari setelah TKD...

Aku merasa lega yang teramat lega, bahkan tak gugup memikirkan aku akan diterima BKF atau tidak. Sebab nikmat lulus TKD sekali uji bagiku telah menjadi hadiah yang amat istimewa, dengan nilai yang memuaskan tentunya menjadi bonus lain yang Allah titipkan. Saat akhirnya aku tahu aku ditempatkan di BKF dari teman, rasanya haru. Bahagia dan sedih. Bahagia karena akhirnya aku membuktikan hasil yang tak akan menghianati usaha. Sedih karena amanah yang akan kutanggung semakin berat.

Aku harus menguatkan kaki untuk menopang badanku, menguatkan tangan untuk menata semua yang ada di depan mataku, menguatkan tekad agar selalu semangat dalam bekerja, dan menguatkan hati agar aku selalu terjaga dari hal-hal yang menyesatkan. Bismillah, ihdinaash shiraathol mustaqiim, tunjukilah kami jalan yang lurus selalu ya Allah...


Dan ini saatnya aku harus memulai lembaran hidupku yang baru bersama BKF. Semoga apa yang akan menjadi pekerjaaaku memiliki mannfaat bagi banyak umat. Langkah-langkah kecil mulai sedikit menapak, setapak demi setapak.


If I Weren’t Here... : Aksel dan STAN (1)

0

“Buk, aku tuh nggak mau masuk Aksel, aku nggak sanggup bersaing. Aku masih terlalu muda, Buk!”

“Buk, aku tuh keterimanya di UI. UI itu cita-citaku, aku nggak mau di STAN, Buk!”

“Aku nggak mau, Buk! Aku nggak mau!”


Mungkin agaknya seperti itu kalimatku di beberapa tahun lalu. Di awal ketika aku masuk SMA dan masuk kuliah dulu. Penuh akan PENOLAKAN, PERTENTANGAN, dan KEKECEWAAN, ahh lupakan. Namun itu di beberapa tahun lalu silam, sudah cukup lama, hingga akhirnya seiring pendewasaan aku dapat berdamai dengan keadaan. Hingga akhirnya semua kecewa sirna, semua penyesalan masa lalu justru aku sesalkan mengapa pernah menjadi penyesalan. Hingga akhirnya semua itu berubah menjadi syukur! SYUKUR TIADA TARA pada Allah SWT.

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”QS. Al Baqarah : 216.

Agaknya kala itu aku memang masih terlalu bocah untuk mengerti arti bersyukur. Emosi yang masih terlalu labil dan jiwa yang masih rapuh. Namun kini rasannya mulai kupahami rahasia-rahasia indah Allah yang telah digariskan-Nya padaku, yang aku yakin masih akan terus berlanjut hingga nyawa sampai di ujung kerongkonganku. Semoga kita selalu menjadi insan yang tak henti menghiasi lisan dengan syukur.


.............................................................................................................


Waktu SMA dulu aku masuk di Program Akselerasi (Percepatan), hanya perlu 2 tahun menamatkan studi. Kakak kelas SMP-ku ada yang masuk program ini, dan jelas menjadi panutan bagi adik-adik kelasnya. Tapi sama sekali Aksel tak menarik minatku sekecil ujung kukupun kala itu. Lagi pula Ayahku selalu bilang, “Kamu masih terlalu muda, tak perlu Aksel, yang biasa-biasa saja. Toh lulusmu juga masih muda walau bukan Aksel.”. Aku memang lebih muda setahun dibanding angkatan normalku, dan memang aku tidak memupuk minat dan ketertarikan di Aksel (sama sekali). Namun, semua itu berubah saat Allah menuliskan rencana besar tak terduga dalam hidupku.

Saat SMP aku tergolong anak yang biasa-biasa aja, yang jauh lebih pintar dariku pun banyak. Saat lulus pun aku bukan yang terbaik. Hingga tibalah masa pendaftaran SMA.  Kala itu di SMA yang akhirnya menjadi almamaterku ini ada 3 program pilihan : Akselerasi, RSBI, dan Reguler. Tentunya seleksi tersulit adalah bagi mereka yang mendaftar Akselerasi. Rangkaian seleksi yang amat kompleks mulai dari seleksi nilai rapot, nilai UN, wawancara, tes IQ, dll.

Lantas aku ikut seleksi Aksel ini? Tentu tidak!

Aku tak menaruh minat sedikitpun padannya. Yang aku ambil adalah formulir RSBI. Seleksinya tidak berbeda jauh, namun standar nilainya masih di bawah Aksel tentunya. Aku optimis masuk RSBI kala itu. Tapi mungkin Allah telah menuliskan tahun 2008 itu adalah tahun penuh kenangan bagiku. Saat aku di rumah (sepulang MOS dari SMA lain yang sebelumnya aku masuk lewat jalur rapot) tergeletaklah secarik kertas persetujuan mengikuti Program Akselerasi. Reaksiku? Jelas kaget dan bertanya-tanya apa maksudnya.

“Ini maksudnya surat buat apa sih? Kok ada Akselnya?”

“Kamu masuknya Aksel. Kata guru BP-nya nilai tesmu bisa masuk di Aksel.”, balas Ayahku.

Hati ini berteriak. Aku tak mau, sungguh aku tak mau kala itu. Rasa kesal dan sedih bercampur jadi satu. Ibuku tentunya memberi penjelasan padaku. Namun, aku masih tak terima, aku masih geram. Aku tak mau, aku hanya menangis di kamar. Aku merasa ‘terpaksa’ masuk Aksel karena Ayahku dan juga guru BP-ku. Kesal? Tentunya kesal saat itu.

“Buk, aku tuh nggak mau masuk Aksel, aku nggak sanggup bersaing. Aku masih terlalu muda, Buk!

Apa daya, aku tak terlalu berani melawan orang tua. Kujalani  hari-hari di Aksel dengan setengah hati. Aku merasa tak nyaman dengan teman-teman yang aku rasa terlalu superior untuk ukuranku, sedangkan aku hanya anak yang biasa-biasa saja. Hari demi hari, hingga 2 tahun berlalu, kulewati dengan penuh tekanan dan kekecewaan. Aku sempat depresi dan terpuruk. Aku tak suka IPA, aku dipaksa masuk Aksel dan terpaksa harus IPA. Nilai-nilaiku hancur, aku bukan aku yang sama seperti SMP dulu. Aku merasa membenci tiap sudut ruangan kelasku, aku menyesal kala itu.

Saat UN pun aku harus jatuh-bangun mengejar ketertinggalanku. Tak luput tangis sering mengiringi malamku. Walaupun alhamdulillah aku masih dianugerahi kelulusan oleh Allah dan nilai yang cukup memuaskan. Ah, sayangnya belum selesai sampai di situ, perjuangan selanjutnya lebih berat lagi : masuk perguruan tinggi.

Aku anak IPA, tapi aku sangat tidak suka dengan IPA. Alhasil aku harus banting setir pada IPS merebut lahan kawan-kawan IPS-ku yang lain (maafkan aku kawan). Aku harus mulai belajar IPS dari nol, benar-benar dari nol. Tapi aku menikmati belajar IPS ini, sungguh menikmati dibandingkan dengan belajar IPA di kelas dulu.

Walaupun semua telah kupersiapkan sejak jauh hari, lagi-lagi aku harus gagal dalam banyak seleksi. Tekanan terasa amat berat dalam hidupku. Aku nyaris putus asa dan menyerah sampai di sini. Apalagi kalau membayangkan apa yang akan dikatakan orang, “Masa anak Aksel tak bisa lolos ujian?”. Kala itu, usiaku belum 16, masih terlalu labil dan aku masih belum paham betul arti bersyukur.

Allah sungguh Maha Pengasih. Lagi-lagi kesempatan itu datang, tidak hanya satu, namun dua. UI dan STAN. Tak kusia-siakan kesempatan ini tentunya. Aku gugup karena kesempatan semakin kecil, sedangkan jurusan yang aku minati hanya menerima 10 orang dari sekian pendaftar. Dan STAN? Ah, kala itu modalnya hanya cuma-cuma. Aku memang suka (sekali) belajar ekonomi, tapi STAN bukan tujuan utamaku. Layaknya iseng-iseng berhadiah, aku mendaftar STAN.

Akhirnya, setelah sekian kali gagal dalam banyak ujian, akupun diterima di UI. Alhamdulillah rasanya bangga tiada terkira, terutama Ibu karena beliau yang selama ini paling sedih melihatku murung selama masa pecarian sekolah yang tak kunjung dapat.  Perjuangan, aku merasakan betul hakikat dari berjuang kala itu.

UI adalah mimpi masa kecilku, dari kecil, dari TK bahkan. UI adalah cita-citaku, namun kala langkah itu hanya tinggal sepelemparan batu ternyata sudah ada garisan takdir lain dari Allah untukku. Aku diterima STAN (yang hanya bermodal coba-coba). Kelulusan ini sempat kurahasiakan dari Ayahku. Tapi waktu adalah waktu, waktu juga yang mengungkap semua rahasiaku. Ayah akhirnya tahu dan besar harapnya serta Ibuku kalaulah aku sudi melepas UI-ku.

Buk, aku tuh keterimanya di UI. UI itu cita-citaku, aku nggak mau di STAN, Buk!”



(bersambung)

Selasa, 10 Juni 2014

Agustin, Adik Baruku

0

Nama adik baruku ini Agustin.

Sewaktu pertama kali bertemu dengannya, sambutan hangat langsung diberikannya. Gadis kecil ini begitu riang, bahkan keceriannya mampu menghapus keterharuanku saat pertama kali tiba.

Rumah-rumah sederhana, bahkan jauh untuk dikatakan layak dihuni manusia. Kardus dan papan menjadi betengnya, atap seadanya harus menaungi banyak kepala di bawahnya dari terik dan basah kala hujan tiba.

Ranger Al-Falah: Karno, Agusti, Weni, Shafira

Gadis kecil ini begitu memikat hatiku. Gadis kecil inilah yang pertama kali menyalamiku dan memanggilku “Kakak”. Gadis kecil ini pula yang meminta digandeng tangannya, yang meminta untuk pulang bersama. Agustin bernasib sama dengan rekan-rekan lainnya, tinggal dalam lingkungan yang begitu sederhana.

Agustin saat ini sedang belajar membaca, mengenal huruf demi huruf untuk merangkainya menjadi sebuah kata. Agustin juga suka belajar matematika. Hal yang paling digemarinya. Ketika aku tiba dia selalu berseru, “Kakak, ayo sekarang kita menghitung!”. Adik kecilku ini agak kurang sabaran rupanya. Namanya juga anak-anak, begitu yang tersirat dibenakku.

Agustin belum bersekolah, tapi dia suka menipuku ketika aku bertanya, “Agustin sudah kelas berapa?”. Dengan gigi yang berongga di tengahnya, adikku ini menjawab, “Sudah kelas 5.”. Ah, dasar anak-anak, suka sekali becanda. Padahal membaca nama buah saja adikku ini masih kepayahan. Namanya juga Agustin, adik kecil periang yang suka berbohong padaku kalau mau belajar. Dengan muka anak kucingnya dia akan berkata, “Kakak, aku sudah belajar tadi, sekarang boleh menggambar ya?”. Agustin, Agustin, padahal sejak tadi dia terus-terusan bermain di sampingku.

Agustin saat ini usianya lima dan dia tengah belajar membaca Iqro satu. Masih awal, wajar, namanya juga belajar. Kadang ada huruf-huruf hijaiyah yang dia lupa. Akupun harus menulis catatan agar Agustin mengulang kembali bacaannya. Ini kedua kalinya Agustin harus mengulang pada halaman yang sama. Aku melihat betul betapa sedihnya wajah Agustin saat melihat kakak-kakak lainnya sudah jauh membaca lebih banyak halaman daripada dia. Agustin sempat membisikiku, “Kakak, kalau aku belajar pakai Al-Quran saja boleh?”. Ah, adik kecilku ini, ada-ada saja. Sabarlah adikku, suatu saat ketika sudah kau kuasai huruf-huruf itu, maka percayalah Al-Qur’an tidak akan menjadi perkara bagimu. Insya Allah.

Kakak yakin suatu saat Agustin bisa membaca Al-Qur’an, membaca cerita, menulis, dan juga pandai matematika. Itu selama Agustin mau terus belajar dan terus berusaha. Agak susah bagiku menjelaskan makna berusaha bagi adik-adikku ini. Ya Allah, berikanlah kemudahan bagiku untuk membimbing mereka agar menjadi insan yang lebih baik dalam berkarya. Ya Allah, pada kalanya nanti kesabaran ini pasti akan teruji, maka dari itu senantiasalah ingatkan aku dalam kelembutan untuk membimbing mereka.

Agustin, Weni, Shafira, Tantri, Niis, Via, Reza, Heru, dan adik-adikku lainnya. Kakak percaya suatu saat kalian bisa menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Janji-janji itu nyata adikku, kita hanya cukup percaya pada-Nya.

Perang Suriah dan Kehadiran Barat

0

Akhir-akhir ini marak pemberitaan perang Sunni-Syi’ah di berbagai penjuru dunia, pun termasuk di Madura salah satunya. Sebagai seorang Muslim (Sunni –Ahlussunnah Wal Jama’ah-) memang kita diajarkan untuk memerangi Syia’ah dalam konteks kehidupan beragama. Di beberapa negara Islam (Sunni –misal, KSA, Malaysia, Brunei, dll.),  Syi’ah memang dianggap sebagai aliran sesat karena sejarah atas perlakuannya tehadap sahabat Rasul seperti Abu Bakr dan Umar. Pembahasan mengapa dan bagaimana ini terjadi mungkin bisa dipelajari lagi dalam ilmu agama dan sejarah Islam. Namun, saya berani mengatakan bahwa tidak semua, bahkan hampir sebagian besar Muslim Indonesia (yang pada dasarnya mayoritas berporos Sunni) belum tahu betul apa itu Syi’ah. Mungkin karena bekal agama yang masih kurang diajarkan.

Tapi yang menarik dari kasus perang Sunni-Syi’ah di dunia, salah satunya adalah perang Suriah. Yakni mengenai poros dukungan penyokong kedua kubu yang bertikai. Russia dan negara komunis sealiran (dan negara berhaluan Syi’ah tentunya) yang mendukung rezim pemerintahan Syi’ah Basar Assad, sedangkan mayoritas negara Arab (yang merupakan poros Sunni) yang mendukung oposisi dengan sokongan dari negara Barat.

Ini menarik, hal ini benar-benar membuat saya penasaran. Sebab, Barat (yang notabene dianggap Dajjal oleh umat Islam) mendukung negara-negara Arab untuk memerangi rezim Syi’ah Assad. Mengapa? Saya pun keheranan akan hal ini. Coba kita flashback ke masa lalu tentang intervensi AS pada Irak. Dunia tahu bahwa mayoritas penduduk Irak adalah Syi’ah, sedangkan kala itu Irak dipimpin oleh Saddam Husein yang merupakan seorang Sunni. Saddam saat itu memimpin bagai tirani bagi kaum Syi’ah karena tak segan memenggal kepala para Syi’ah yang dianggap sebagai musuh Islam. Namun, tindakan Saddam tersebut dianggap sebagai kejahatan genosida oleh AS, hingga AS perlu mengintervensinya. Telah kita ketahui sendiri apa jadinya setelah itu. Namun, kali ini, saat di Suriah diisukan terjadi perang saudara antara Sunni-Syi’ah, AS dan Barat justru tidak membela Syi’ah. Justru AS mengecam aksi rezim pemerintah Assad atas nama kedamaian dunia dan kejahatan perang.

Jadi sebenarnya apa yang terjadi? Apa motif dibalik tindakan AS? Sedangkan sejak dahulu hinggi kini, kita, umat Islam di seluruh dunia, masih menganggap AS dan Barat adalah Dajjal  yang akan menghancurkan peradaban Islam. Lalu mengapa seolah di balik Perang Suriah mereka menampakkan diri sebagai mitra berjuang? Mengapa? Apakah mereka benar-benar ingin menyelamatkan dunia? Wallahu’alam...

Kamis, 03 April 2014

Menuju Indonesia 2020: Peduli Aset Bangsa

0

Aset terbesar bangsa ini adalah jumlah generasi muda yang ada. Pada generasi mudalah kita memupuk asa atas kemajuan Indonesia dalam berbagai aspek ke depannya. Langkah memulai kemajuan ini dapat dilakukan dengan memupuk etos dan keterampilan kerja pada generasi muda sedari dini.

Diprediksikan pada tahun 2020-2030 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, suatu kedaan yang menunjukkan jumlah penduduk usia produktif melimpah di Indonesia. Rentang usia produktif ini berada di sekitar usia 14-65 tahun, artinya angka ketergantungan akan semakin menurun. Tak ayal, jumlah penduduk usia produktif ini adalah mereka yang diharapkan mampu mandiri dalam berkompetisi di segala bidang guna mendukung kemajuan. Kejadian ini merupakan kesempatan bagi Indonesia guna memulai langkah pengembangan menuju Indonesia yang lebih maju.

Keadaan tersebut juga akan memicu pencapaian Visi Indonesia 2020. Tentunya hal tersebut tidak serta merta terjadi begitu saja. Diperlukan banyak dukungan agar sumber daya produktif yang ada tidak terbiarkan begitu saja.

Salah satu hal yang menjadi fokus pemerintah adalah dalam upaya memfasilitasi pendidikan dasar yang mumpuni dan terjangkau segala kalangan. Pendidikan merupakan salah satu faktor utama yang amat dibutuhkan. Upaya pemerintah melalui wajib belajar 12 tahun adalah salah satunya. Hal ini guna mendukung terciptanya generasi yang berbekal pendidikan mumpuni. Selain itu, penetapan anggaran pendidikan 20% dari APBN juga merupakan upaya pemerintah agar pendidikan menjangkau semua kalangan. Hal tersebut telah dilaksanakan dengan bantuan operasional sekolah (BOS) dari jenjang SD hingga SMP. Bahkan ada wacana pemerintah untuk menetapkan wajib belajar hingga jenjang SMA dan BOS juga akan diberikan pada jenjang SMA. Di jenjang perguruan tinggi pun, pemerintah tak segan menggelontorkan dana dalam bentuk beasiswa pendidikan. Ini merupakan keseriusan pemerintah dalam peningkatan pendidikan. Keseriusan ini dikemas guna menghadapi bonus demografi agar tujuan yang diharapkan tidak terangan dengan percuma.


Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, generasi yang telah mengenyam tinggi pendidikan, tentunya kita juga dituntut andil memberikan kontribusi. Hal kecil yang dapat dilakukan yakni dengan kepedulian kita terhadap jalannya pendidikan di Indonesia. Jika pemerintah telah berupaya dalam mendukung dan menjamin pendidikan formal, maka kita bertanggung jawab dalam menyuluhkan dan memberikan pengembangan pendidikan pada masyarakat. Masih banyak masyarakat yang awan dengan program pendidikan dasar di Indonesia dan program bantuan pendidikan yang ada. Di sini kita dapat memberikan andil dengan penyuluhan dan bantuan jasa pada masyarakat. Pendidikan  formal tentunya bukan satu-satunya aspek pembangunan manusia. Ada pengembangan diri yang jauh lebih diutamakan dalam kehidupan masyarakat. Pemberian pembekalan ilmu ketrampilan dan arahan masa depan adalah hal lain yang dapat kita sumbangsihkan. Tentunya cita-cita Indonesa maju bukan hanya angan pemerintah semata, namun juga kita seluruh masyarakat Indonesia. Inilah bentuk kepedulian kita mendukung kemajuan bangsa, yakni dengan peduli pada aset terbesar yang kita punya.