BBB... Haha... B adalah huruf favoritku dalam alfabet, sebab
B begitu banyak mengisi hidupku, mulai dari golongan darah hingga awal nama.
Lupakan! Karena untuk nilai kuliah tentunya aku harus berpaling dari B dan
mencintai A, haha...
Bicara soal kuliah, sejak aku dinyatakan lulus setahun yang
lalu, akhirnya kabar bahagia itu datang. Alhamdulillah aku sudah
penempatan saat ini. Di mana? Alhamdulillah di BKF. Apa itu? Badan
Kebijakan Fiskal. *tepuk tangan*
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”.
- QS. Ar Rahman : 13.
Entah ini nikmat atau ujian, namun aku lebih menghargainya
sebagai nikmat yang penuh akan amanah. Semoga aku bisa menjalani hari yang
semakin berat dengan niat berkeja untuk beribadah.
***
Kalau ditanya apakah aku senang? Alhamdulillah aku sangat
bersyukur pada Allah SWT atas pilihan-Nya untukku. Aku terngiang masa
penantian panjang (menjelang TKD) yang penuh kegalauan dengan sebuah
pesan dalam doa.
“Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat
yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.”. – QS.
Al Mu’minun : 29.
BKF ini memang pilihanku (dari awal) sejak sebelum lulus yang
telah kuproyeksikan dalam sebuah recana. I’m not a good planner, but at
least I have my future and I have Allah...
Kenapa memilih BKF?
Terlalu kompleks menjelaskannya. Ini tentang sebuah preferensi
pilihan kenapa ini dan kenapa itu. Bagiku memilih instansi bukan tentang
bayaran, atau banyaknya dinas lapangan. Pada dasarnya kembali pada doa tadi
tentunya, pertimbangan pertama adalah instansi yang jauh dari syubhat. Lalu minat
dan kesiapan menanggung amanah. Ketika akhirnya mengerucut pada BKF yang
menjadi pilihan itu karena dibumbui dengan mimpi-mimpiku. Apa saja mimpiku? Ah,
banyak. Sehingga di kala orang lain sibuk menentukan pilihan di saat pengumuman
TKD baru dirilis, aku telah memikirkannya jauh hari dan mantap dengan
pilihanku.
Opportunity Cost. Tentunya ketika aku memutuskan
memilih BKF pada prioritas pilihan banyak hal yang harus aku korbankan. Berkaca
dari pengalaman senior bahwa BKF (katanya) instansi tersulit untuk ditembus
dengan passing grade tertinggi, kuota sedikit, dan membludaknnya jumlah
peminat, lantas perjuangan tak hanya sekadar doa. Di kala banyak kawanku yang
menghabiskan masa penantian panjang untuk mencari nafkah via per-magang-an, aku
hanya menikmati hari-hariku menuntut ilmu di Jogja dengan sedikit mencicil
materi TKD. Masih mengandalkan kiriman orang tua tentunya. Alhamdulillah aku
memiliki orang tua yang sangat mengerti dan mendukung.
Lantas persiapanku? Aku belajar siang-malam sejak
berbulan-bulan lalu. Bahkan hal-hal teknis yang seharusnya dipelajari setelah
masuk BKF sudah kupelajari jauh hari sebelumnya. Bukan bermaksud congkak,
tetapi ada sebuah kutipan yang aku suka, “There is no result bertraying the
effort.”. Usaha keras tak akan menghianati, tentunya diiringi dengan doa.
Ketika aku mematok target TKD minimal 415 dan masuk BKF, ayal kiranya kalau lah
tanpa diiringi usaha keras sedari dini. Dan doa terutama.
Ketika aku memustukan BKF bukan berarti aku menafikkan
instansi lain. Ini hanyalah tentang preferensi. Ketika kita diberikan pilihan
tentu kita harus mengurutkan hal mulai dari yang diprioritaskan. Kembali ayat
ini yang terkenang :
“Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat
yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.”. – QS.
Al Mu’minun : 29.
Aku hanya memohon supaya ditempatkan di instansi terbaik dan
penuh berkah. Kalaulah BKF jodohku, maka izinkalah aku ditempatkan di sana. BKF
ini telah melalui seleksi panjang dari daftar listku. Aku hanya perlu
memantapkan tekad dan berusaha maksimal. Kalaulah aku terlempar di instansi
lain tak masalah bagiku, toh aku tetap optimis lulus TKD. Allah pasti tahu yang
terbaik bagiku. Aku tak akan menganggap sia-sia semua perjuangan yang telah aku
lakukan kalau saja saat itu bukan BKF jodohku.
9 September, beberapa hari setelah TKD...
Aku merasa lega yang teramat lega, bahkan tak gugup
memikirkan aku akan diterima BKF atau tidak. Sebab nikmat lulus TKD sekali uji
bagiku telah menjadi hadiah yang amat istimewa, dengan nilai yang memuaskan
tentunya menjadi bonus lain yang Allah titipkan. Saat akhirnya aku tahu aku
ditempatkan di BKF dari teman, rasanya haru. Bahagia dan sedih. Bahagia karena
akhirnya aku membuktikan hasil yang tak akan menghianati usaha. Sedih karena
amanah yang akan kutanggung semakin berat.
Aku harus menguatkan kaki untuk menopang badanku, menguatkan
tangan untuk menata semua yang ada di depan mataku, menguatkan tekad agar
selalu semangat dalam bekerja, dan menguatkan hati agar aku selalu terjaga dari
hal-hal yang menyesatkan. Bismillah, ihdinaash shiraathol mustaqiim, tunjukilah
kami jalan yang lurus selalu ya Allah...




