Senin, 23 April 2012

Kisruhnya Jalanan Ibukota

1

Lampu hijau di persimpangan jalan berubah merah, lalu lalang kendaraan terhenti, antrian kendaraan mengular. Dari tahun ke tahun hal itu semakin parah terutama pada hari-hari kerja saat jam makan siang atau pulang kantor, apalagi saat hujan turun. Motor bersilangan dengan mobil-mobil pribadi di jalanan ibukota. Tak mau kalah, angkutan umum dalam kota juga ikut berebut menguasai jalanan mencari penumpang dan berhenti sekenanya di bahu jalan. Kejadian tersebut adalah pemandangan sehari-hari yang dapat kita lihat di Jakarta. Kemacetan adalah salah satu masalah utama yang terjadi di ibukota, bahkan di seluruh kota-kota besar di dunia. Sudah berulang kali kepala daerah berganti namun tiada satu pun yang benar-benar bisa mengatasi kemacetan parah di kota ini.


Macet Hal Biasa di Jakarta
source : http://www.iec.co.id


Seiring perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, kebutuhan manusia juga semakin berubah. Mobilitas tinggi sangat diperlukan, manusia berpacu dalam waktu dan itulah yang terjadi di ibukota saat ini. Sebagai kota metropolitan, pusat pemerintahan dan kota dengan janji-janji pekerjaan layak, membuat Jakarta tetap menjadi primadona bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Merubah kehidupan, itulah harapan semua orang yang melukakan urbanisasi dari kampung halamannya menuju Jakarta. Dengan luas wilayah yang relatif tidak luas dan pertumbuhan penduduk alami serta angka migrasi yang begitu tinggi, membuat Jakarta semakin penuh semakin hari. Masalah utama kemacetan di Jakarta tercipta karena hal itu.

Banyak orang menginginkan alat transportasi yang nyaman digunakan, yang bisa mengantarkan mereka ke tempat pekerjaan secara mudah dan tepat waktu. Namun apa yang terjadi di Jakarta sangatlah bertolak belakang dengan hal itu. Angkutan umum di Jakarta masih sangat jauh dari kata nyaman digunakan, sebut saja metro mini atau kopaja yang masih menjadi alat transportasi khas ibukota. Angkutan umum tersebut memang murah dan sangat terjangkau, namun tak sedikit juga menimbulkan keengganan masyarakat Jakarta menggunakannya. Di samping karena suasana di dalam angkutan yang tidak begitu nyaman, umur kendaraan yang sudah terlampau tua, juga dikarenakan pengemudi angkutan yang mengendarai kendaraan ugal-ugalan. Karena hal itu, banyak masyarakat Jakarta yang memilih menggunakan kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor pribadi di samping karena perkembangan jaman yang juga memaksa mereka berlomba meningkatkan prestise kehidupan.

Semakin banyak orang yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi maka semakin penuhlah jalanan ibukota. Pertumbuhan kendaraan di ibukota tak sebanding dengan kesedian jalan raya, apalagi sejak bus way diberlakukan. Bus way atau jalur khusus untuk angkutan Trans Jakarta memakan sepotong lajur jalan raya, yang artinya jalanan menjadi semakin sempit dari sebelumnya. Sebenarnya pengadaan Trans Jakarta ini merupakan suatu solusi yang cukup baik dilakukan Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Namun tetap saja, banyak keluhan bagi para pengguna yang mengeluhkan kenyamanan di dalam angkutan Trans Jakarta. Kendaraannya memang dilengkapi dengan pendingin udara namun berdesak-desakan sudah menjadi hal yang biasa. Rute bus way yang tidak melewati semua tempat di Jakarta juga menjadi salah satu alasaannya, di samping keluhan lamanya menunggu angkutan Trans Jakarta yang siap mengangkut para penumpang. Tidak heran jika masih saja masyarakat Jakarta lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi mereka.


Berdesakan Keluar-Masuk Transjakarta
source : http://www.thejakartaglobe.com


Dahulu sempat dikenalkan water way, angkutan sungai di Jakarta yang memanfaatkan sungai-sungai yang jumlahnya tak sedikit di tengah kota. Kenyataannya proyek tersebut mangkrak tak berguna, tingkat polusi sampah di sepanjang aliran sungai di Jakarta tidak mendukung kelancaran angkutan sungai. Apalagi bau busuk menyengat yang sudah biasa untuk sungai-sungai di Jakarta membuat angkutan tersebut sangat tidak nyaman digunakan, masih belum cocok dengan keadaan Jakarta untuk saat ini. Yang baru-baru ini dikenalkan adalah monorel yang akan dibangun melintasi angkasa kota Jakarta. Awal ide ini dicetuskan banyak sambutan positif dan harapan dari seluruh warga Jakarta, namun yang terjadi kini proyek tersebut dihentikan. Pupuslah sudah keinginan warga Jakarta untuk memiliki angkutan yang lebih baik yang bisa mengatasi kekisruhan di jalan raya. Padahal tiang-tiang penyangga jalur sudah terpasang di mana-mana, pembangunannya pun telah memakan dana, menimbulkan kemacetan serta memakan korban. Pemerintah daerah sendiri juga sudah angkat tangan memikirkan bagimana mengatasi masalah kemacetan ini. Jika hal ini dibiarkan saja maka kemacetan di Jakarta akan semakin parah. Sekarang ini muncul lagi ide mengatasinya, Mass Rapid Transit (MRT). Banyak tanggapan negatif masyarakat Jakarta yang terlanjur kecewa pada pemerintah daerah akan terlaksananya proyek ini. Mereka terlanjur kecewa atas apa yang terjadi dan mereka rasakan saat ini, terutama ketika akhirnya monorel gagal dilaksanakan di Jakarta. Masyarakat sudah cenderung pesimis akan usaha tersebut.

Jika kita amati secara saksama, sesungguhnya semua ini tidaklah mutlak kesalahan Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Segala daya dan upaya telah mereka lakukan demi permasalahan ini. Semua proyek telah dicoba walaupun hasilnya memang tidak seluruhnya berjalan sempurna. Trans Jakarta yang digadang-gadang sebagai proyek yang akan berhasil nyatanya masih saja tidak berkontribusi besar dalam lapangan. Kemacetan masih terjadi di mana-mana. Lantas siapa yang berhak disalahkan? Jawabannya bukanlah mengenai siapa yang harus disalahkan. Tapi marilah kita membuka mata untuk Jakarta kita, bukan saatnya meributkan siapa yang seharusnya disalahkan. Jakarta adalah ibukota negara kita, itu artinya Jakarta juga kota kita. Sudah selayakanya kita terutama yang berdiam di Jakarta, kita menyadari akan semua ini. Jika kita menginginkan perubahan pada Jakarta tidak hanya tunututan yang kita layangkan, tapi juga perbutan yang kita lakukan untuk perubahan. Kalau sudah tahu Jakarta penuh karena kendaraan pribadi yang begitu banyak, alangkah baiknya kalau kita membatasi kendaraan pribadi yang kita miliki. Hal tersebut tidak lantas berarti melanggar kebebasan kita untuk memilki kendaraan. Tapi lihatlah dengan kontribusi hal sekecil itu banyak perubahan yang bisa kita lakukan. Jika memang merasa memiliki kendaraan pribadi dalam jumlah tertentu adalah kebebasan, maka pergunakanlah itu seperlunya dengan seefisien dan seefektif mungkin. Apabila dalam satu keluarga terdapat 4 orang dan tiap orang berkendara pribadi, apa jadinya bagi ratusan bahkan ribuan keluarga yang sama terhadap jalanan di ibukota? Memang, semua itu memerlukan kesadaran antara kedua belah pihak, yaitu masyarakat dan pemerintah daerah. Jika pemerintah daerah menginginkan penggunaan kendaraan pribadi yang dibatasi, maka seharusnya pemerintah daerah menyadari juga bahwa mereka juga harus bertindak mendukung terjadinya hal itu. Misalnya, memperbaiki angkutan umum yang sudah ada dengan membuatnya semakan nyaman dan layak digunakan. Meskipun merubah kebiasaan masyarakat yang terlanjur lebih suka menggunakan kendaraan pribadi itu susah, namun lama-kelamaan masyarakat pasti akan menyadari hal ini. Apabila angkutan umum sudah diperbaiki kualitasnya, masyarakat pun menjadi tak enggan menaikinya. Intinya adalah harus ada hubungan komunikasi 2 arah antara pemerintah daerah dan masyarakat, tidak seperti saat ini yang terlihat dari pandangan kita, pemerintah daerah melakukan apa saja yang menurutnya dirasa benar tetapi tidak menanyakan pada masyarakat apakah mereka membutuhkan dan apa yang mereka butuhkan. Semuanya juga mengenai kesadaran masing-masing individu, apabila setiap masyarakat Jakarta menyadari akan hal ini tentunya masalah ini tidak akan berlarut hingga beberapa tahun ke depan. Impian memiliki kota Jakarta yang nyaman di jalanan bukan lagi sekedar khayalan, selama kita mau berusaha dan bekerja untuk menyadari akan hal itu.


1 komentar: