Kamis, 03 April 2014

April Mop? Maaf, Kami Tak Kenal...

0

Innalillah... Astaghfirullah... Astaghfirullah... Astaghfirullah...

Ampuni kami, Ya Allah. Ampuni kami yang masih jauh dari ilmu ini, ampuni kami yang masih sering khilaf ini. Ampuni kami, Ya Allah.

Maafkan kami, kawan. Maaf karena kami tidak mengenal April Mop. Entah apa itu, tapi kami benar-benar tidak kenal dan tidak akan pernah mengenalnya. Maaf kawan, maafkan kami karena tidak peka menganggap kejadian hari ini hanya kelakar belaka. Maafkan kami karena belum bisa memahami apa yang terjadi. 

Maafkan atas ketidaktahuan kami. Maaf kalau mungkin kami jarang bergaul dengan kalian, hingga April Mop saja kami tidak tahu. Memang kami ini cupu, kami bukan anak gaul. Maafkan kami kawan, memang ini salah kami karena ketidaktahuan kami.

Kawan, mungkin lain kali kalian bisa memberitahu atas hal-hal baru yang belum kami ketahui. Agar kami tidak tersesat dan terjebak dalam situasi. Memang hanya kelakar belaka, tapi maafkan kami bila kami sempat tersulut emosi. Maaf kawan, bukan maksud kami begini. Tetapi memang kalian orang yang kami percaya, hingga kami pernahmerasa tak perlu lagi menaruh curiga. Maafkan kami kawan yang lupa ber-tabayyun terhadap kalian. Hingga kami langsung saja memberi cap kalian adalah pembohong. Maafkan ketidaktahuan kami kalau hari ini ternyata April Mop. Maaf kami sungguh minta maaf karena orang tua kami tak pernah memberitahu kami ada satu hari dalam setahun yang disebut April Mop.


Semoga kalian berkenan memberikan maaf bagi kami yang masih kurang dari ilmu ini. Jangan segan untuk memberitahu kami ilmu baru karena kami sangat membutuhkan itu. Tetap jaga ukhuwah ini ya kawan. Selamat berjuang di medan perjuangan.

Kamis, 30 Mei 2013

Inside Job : Konspirasi Sistematis Penyebab Krisis Global

0

Konspirasi, adalah hal yang menyebabkan krisis global pada tahun 2008. Krisis yang bermuasal dari Amerika Serikatini telah menyeret dunia ke dalam krisis ekonomi yang sangat parah. Negeri adidaya dengan sejuta kuasa itu akhirnya jatuh ke dalam resesi yang sangat mengkhawatirkan, hal itu merupakan krisis terparah setelah Great Depression di awal abad ke-20. Sistem keuangan telah remuk, semua karena mereka para eksekutid, praktisi akademik dan organisasi-organisasi keuangan melakukan sebuah konspirasi buruk guna mencari keuntungan diri sendiri. Akibatnya rakyat-rakyat bawah di Amerika Serikat yang merasakan dampaknya. Pengangguran meningkat tajam dalam dekade terakhir. Sangat mengejutkan hal tersebut terjadi pada negara dengan pilar ekonomi yang kokoh seperti Amerika Serikat dengan segala kuasanya.

Awal penyebabnya terjadi ketika industri keuangan Amerika diregulasikan untukperiode deregulasi yang panjang, membuat derivatif menjadi populer dalam industri ini dan mulai menambahkan ketidakstabilan ekonomi negara.

Krisis dimulai dengan hancurnya sistem perkreditan rumah di Amerika Serikat di mana perusahaan properti memberikan kredit rumah rendah kepada masyarakat Hal ini menarik banyak animo masyarakat setempat yang menyebabkan ledakan permintaan kredit perumahan sebelumnya. Banyak orang melakukan kredit perumahan, tingat kredit perumahan naik sangat tajam. Mereka melakukan kredit dengan melakukan pinjaman pada lembaga keuangan/pemberi pinjaman setempat. Karena harga kredit rumah yang begitu murah banyak orang yang mengambil kesempatan itu, bahkan mereka yang tidak mempunyai pekerjaan dan penghasilan tetap dapat pula memanfaatkan kesempatan itu. Mereka mengeluarkan obligasi sampah dengan kemungkinan tidak terbayarnya sangat besar.

Dahulu ketika seseorang ingin melakukan pinjaman maka orang tersebut akan meminjam pada pemberi pinjaman dan pemberi pinjaman akan memberikan uang dengan menanggung risiko kemungkinan tidak terbayar. Hal tersebut adalah sistem yang sederhana. Namun, seiring berkembangannya pemikiran manusia, sistem keuangan yang semula tradisional melayani pertumbuhan ekonomi riil tersebut berubah menjadi sistem keuangan modern yang lebih banyak mengurusi kepentingan para orang-orang tertentu saja. Pada kasus krisis perumahan ini, dengan sistem baru tersebutpara pemberi pinjaman dapat menjual obligasi yang mereka terima kepada bank investasi. Tidak berhenti di situ, bank investasi dengan tujuan mencari keuntungan melakukan modifikasi pada obligasi sampah atau yang kita sebut subprime mortgage tersebut. Bank-bank investasi memaketkan hipotek dengan pinjaman dan utang lain yang merupakan sampah tersebut menjadi obligasi utang terjamin, atau collateralized debt obligation (CDO), yang mereka jual kepada investor. Dalam pelaksanaannya, bank investasi menggaet lembaga pemberi rating untuk melakukan konspirasi agar memberikan penilaian palsu atas CDOyang mereka miliki dengan pemberian rating yang sangat baik, untuk hal itu bank investasi membayarkan sejumlah uang pada lembaga pemberi rating tersebut. CDO yang seharusnya merupakan sesuatu yang sangat membahayakan sekarang menjadi terlihat sebagaisuatu bentuk investasi yang aman dengan manipulasi rating menjadi AAA atau AA yang notabenenya sangat baik. Lalu produk sampah tersebut mereka jual pada investor di seluruh dunia, bisa dikatakan ini merupakan suatu tipuan terselubung yang sangat jahat dan tidak disadari.

Masalah muncul ketika mereka, para pengkredit rumah yang melakukan pinjaman,yang kebanyakan adalah rakyat bawah, yang bahkan sebagian merupakan orang dengan pekerjaan tidak tetap gagal membayarkan pinjaman yang mereka lakukan. Efeknya adalah kepada dunia. Ini terjadi karena CDO tersebut telah dipegang pada banyak investor di seluruh dunia.

Masalah semakin kompleks karena bank investasi dan perusahaan asuransi melakukan pertukaran kredit. Namun, bank investasi tidak mengalami kerugian untuk hal itu. Ini terjadi karena CDO yang mereka miliki telah mereka asuransikan pada lembaga asuransi yang ada. Bank investasi melakukan pembayaran rutin guna pembayaran asuransi tersebut. Apabila CDO mereka hancur maka bank investasi akan menerima uang penggantian, sebalinya perusahaan asuransi akan melakukan pembayaran atas itu. Karena jumlah CDO yang begitu banyaknya, membuat jumlah yang ditanggung oleh perusahaan asurnasi juga sangat besar. Masalah ini ibarat jamur yang tumbuh di musin hujan, menyeret beberapa korporasi dalam kebangkrutan.

Sebelum masalah ini meledak, konspirasi yang terjadi tidak hanya pada mereka para organisasi-organisasi keuangan. Para praktisi akademik pun terlibat dalam hal ini. Mereka yang biasanya memberikan tinjauan dan analisis terhadap ekonomi telah berkonspirasi dengan organisasi-organisasi keuangan yang ada. Sebenarnya mereka mengetahui bahwa CDO bank investasi tersebut merupakan sesuatu yang sangat membahayakan, namun mereka mengatakan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu pada taraf yang baik-baik saja. Mereka melakukan semua ini dengan imbalan bayaran, bahkan beberapa di antara mereka diangkat menjadi pemimpin dari organisasi-organisasi keuagan yang telah melakuakan kejahatan keuangan.Semua hal tersebut didasari pada hasrat untuk mencari keuntungan pribadi semata.
Ketika CDO tersebut benar-benar hancur, para investor kehilangan investasi dan uang mereka. Konspirasi ini telah membuat suatu risiko yang sistematis yang sudah tidak dapat ditangani dan membuat bank-bank investasi yang melakukan konspirasi tersebut jatuh bangkrut, ditinggalkan dengan ratusan miliar dolar dalam bentuk pinjaman, CDO dan real estate yang tidak dapat mereka kembalikan kepada investor di seluruh dunia. Perusahaan asuransi yang melakukan pertukaran kreditpun ikut jatuh bangkrut. Hal ini membuat harga pasar saham turun dan hancur. Pengangguran meningkat tajam, banyak orang kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempat mereka bekerja bangkrut terkena dampak krisis global. Tapi tidak untuk mereka para eksekutif perusahaan insolven, mereka kabur dengan kekayaan pribadinya atas kejahatan konspirasi tersebut. Hal ini telah membuat suatu efek domino pada dunia. Sampai saat ini reformasi keuangan di Amerika Serikat sendiri masih begitu lemah. Orang-orang terkait kasus konspirasi tersebut beberapa dibiarkan begitu saja, bahkan beberapa di antaranya bergabung dalam pemerintah. Hal ini sungguh merupakan sebuah konspirasi kejahatan keuangan yang sangat nyata. Akankah krisis seperti ini kembali lagi terjadi? Semua dikembalikan pada masyarakat awan, kita dituntut untuk peka dan berani dalam mengutarakan kritikan dalam melawan konsirasi kejahatan.

Senin, 23 April 2012

Kisruhnya Jalanan Ibukota

1

Lampu hijau di persimpangan jalan berubah merah, lalu lalang kendaraan terhenti, antrian kendaraan mengular. Dari tahun ke tahun hal itu semakin parah terutama pada hari-hari kerja saat jam makan siang atau pulang kantor, apalagi saat hujan turun. Motor bersilangan dengan mobil-mobil pribadi di jalanan ibukota. Tak mau kalah, angkutan umum dalam kota juga ikut berebut menguasai jalanan mencari penumpang dan berhenti sekenanya di bahu jalan. Kejadian tersebut adalah pemandangan sehari-hari yang dapat kita lihat di Jakarta. Kemacetan adalah salah satu masalah utama yang terjadi di ibukota, bahkan di seluruh kota-kota besar di dunia. Sudah berulang kali kepala daerah berganti namun tiada satu pun yang benar-benar bisa mengatasi kemacetan parah di kota ini.


Macet Hal Biasa di Jakarta
source : http://www.iec.co.id


Seiring perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, kebutuhan manusia juga semakin berubah. Mobilitas tinggi sangat diperlukan, manusia berpacu dalam waktu dan itulah yang terjadi di ibukota saat ini. Sebagai kota metropolitan, pusat pemerintahan dan kota dengan janji-janji pekerjaan layak, membuat Jakarta tetap menjadi primadona bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Merubah kehidupan, itulah harapan semua orang yang melukakan urbanisasi dari kampung halamannya menuju Jakarta. Dengan luas wilayah yang relatif tidak luas dan pertumbuhan penduduk alami serta angka migrasi yang begitu tinggi, membuat Jakarta semakin penuh semakin hari. Masalah utama kemacetan di Jakarta tercipta karena hal itu.

Banyak orang menginginkan alat transportasi yang nyaman digunakan, yang bisa mengantarkan mereka ke tempat pekerjaan secara mudah dan tepat waktu. Namun apa yang terjadi di Jakarta sangatlah bertolak belakang dengan hal itu. Angkutan umum di Jakarta masih sangat jauh dari kata nyaman digunakan, sebut saja metro mini atau kopaja yang masih menjadi alat transportasi khas ibukota. Angkutan umum tersebut memang murah dan sangat terjangkau, namun tak sedikit juga menimbulkan keengganan masyarakat Jakarta menggunakannya. Di samping karena suasana di dalam angkutan yang tidak begitu nyaman, umur kendaraan yang sudah terlampau tua, juga dikarenakan pengemudi angkutan yang mengendarai kendaraan ugal-ugalan. Karena hal itu, banyak masyarakat Jakarta yang memilih menggunakan kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor pribadi di samping karena perkembangan jaman yang juga memaksa mereka berlomba meningkatkan prestise kehidupan.

Semakin banyak orang yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi maka semakin penuhlah jalanan ibukota. Pertumbuhan kendaraan di ibukota tak sebanding dengan kesedian jalan raya, apalagi sejak bus way diberlakukan. Bus way atau jalur khusus untuk angkutan Trans Jakarta memakan sepotong lajur jalan raya, yang artinya jalanan menjadi semakin sempit dari sebelumnya. Sebenarnya pengadaan Trans Jakarta ini merupakan suatu solusi yang cukup baik dilakukan Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Namun tetap saja, banyak keluhan bagi para pengguna yang mengeluhkan kenyamanan di dalam angkutan Trans Jakarta. Kendaraannya memang dilengkapi dengan pendingin udara namun berdesak-desakan sudah menjadi hal yang biasa. Rute bus way yang tidak melewati semua tempat di Jakarta juga menjadi salah satu alasaannya, di samping keluhan lamanya menunggu angkutan Trans Jakarta yang siap mengangkut para penumpang. Tidak heran jika masih saja masyarakat Jakarta lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi mereka.


Berdesakan Keluar-Masuk Transjakarta
source : http://www.thejakartaglobe.com


Dahulu sempat dikenalkan water way, angkutan sungai di Jakarta yang memanfaatkan sungai-sungai yang jumlahnya tak sedikit di tengah kota. Kenyataannya proyek tersebut mangkrak tak berguna, tingkat polusi sampah di sepanjang aliran sungai di Jakarta tidak mendukung kelancaran angkutan sungai. Apalagi bau busuk menyengat yang sudah biasa untuk sungai-sungai di Jakarta membuat angkutan tersebut sangat tidak nyaman digunakan, masih belum cocok dengan keadaan Jakarta untuk saat ini. Yang baru-baru ini dikenalkan adalah monorel yang akan dibangun melintasi angkasa kota Jakarta. Awal ide ini dicetuskan banyak sambutan positif dan harapan dari seluruh warga Jakarta, namun yang terjadi kini proyek tersebut dihentikan. Pupuslah sudah keinginan warga Jakarta untuk memiliki angkutan yang lebih baik yang bisa mengatasi kekisruhan di jalan raya. Padahal tiang-tiang penyangga jalur sudah terpasang di mana-mana, pembangunannya pun telah memakan dana, menimbulkan kemacetan serta memakan korban. Pemerintah daerah sendiri juga sudah angkat tangan memikirkan bagimana mengatasi masalah kemacetan ini. Jika hal ini dibiarkan saja maka kemacetan di Jakarta akan semakin parah. Sekarang ini muncul lagi ide mengatasinya, Mass Rapid Transit (MRT). Banyak tanggapan negatif masyarakat Jakarta yang terlanjur kecewa pada pemerintah daerah akan terlaksananya proyek ini. Mereka terlanjur kecewa atas apa yang terjadi dan mereka rasakan saat ini, terutama ketika akhirnya monorel gagal dilaksanakan di Jakarta. Masyarakat sudah cenderung pesimis akan usaha tersebut.

Jika kita amati secara saksama, sesungguhnya semua ini tidaklah mutlak kesalahan Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Segala daya dan upaya telah mereka lakukan demi permasalahan ini. Semua proyek telah dicoba walaupun hasilnya memang tidak seluruhnya berjalan sempurna. Trans Jakarta yang digadang-gadang sebagai proyek yang akan berhasil nyatanya masih saja tidak berkontribusi besar dalam lapangan. Kemacetan masih terjadi di mana-mana. Lantas siapa yang berhak disalahkan? Jawabannya bukanlah mengenai siapa yang harus disalahkan. Tapi marilah kita membuka mata untuk Jakarta kita, bukan saatnya meributkan siapa yang seharusnya disalahkan. Jakarta adalah ibukota negara kita, itu artinya Jakarta juga kota kita. Sudah selayakanya kita terutama yang berdiam di Jakarta, kita menyadari akan semua ini. Jika kita menginginkan perubahan pada Jakarta tidak hanya tunututan yang kita layangkan, tapi juga perbutan yang kita lakukan untuk perubahan. Kalau sudah tahu Jakarta penuh karena kendaraan pribadi yang begitu banyak, alangkah baiknya kalau kita membatasi kendaraan pribadi yang kita miliki. Hal tersebut tidak lantas berarti melanggar kebebasan kita untuk memilki kendaraan. Tapi lihatlah dengan kontribusi hal sekecil itu banyak perubahan yang bisa kita lakukan. Jika memang merasa memiliki kendaraan pribadi dalam jumlah tertentu adalah kebebasan, maka pergunakanlah itu seperlunya dengan seefisien dan seefektif mungkin. Apabila dalam satu keluarga terdapat 4 orang dan tiap orang berkendara pribadi, apa jadinya bagi ratusan bahkan ribuan keluarga yang sama terhadap jalanan di ibukota? Memang, semua itu memerlukan kesadaran antara kedua belah pihak, yaitu masyarakat dan pemerintah daerah. Jika pemerintah daerah menginginkan penggunaan kendaraan pribadi yang dibatasi, maka seharusnya pemerintah daerah menyadari juga bahwa mereka juga harus bertindak mendukung terjadinya hal itu. Misalnya, memperbaiki angkutan umum yang sudah ada dengan membuatnya semakan nyaman dan layak digunakan. Meskipun merubah kebiasaan masyarakat yang terlanjur lebih suka menggunakan kendaraan pribadi itu susah, namun lama-kelamaan masyarakat pasti akan menyadari hal ini. Apabila angkutan umum sudah diperbaiki kualitasnya, masyarakat pun menjadi tak enggan menaikinya. Intinya adalah harus ada hubungan komunikasi 2 arah antara pemerintah daerah dan masyarakat, tidak seperti saat ini yang terlihat dari pandangan kita, pemerintah daerah melakukan apa saja yang menurutnya dirasa benar tetapi tidak menanyakan pada masyarakat apakah mereka membutuhkan dan apa yang mereka butuhkan. Semuanya juga mengenai kesadaran masing-masing individu, apabila setiap masyarakat Jakarta menyadari akan hal ini tentunya masalah ini tidak akan berlarut hingga beberapa tahun ke depan. Impian memiliki kota Jakarta yang nyaman di jalanan bukan lagi sekedar khayalan, selama kita mau berusaha dan bekerja untuk menyadari akan hal itu.


Minggu, 22 April 2012

Janji Kartini

0

“Tak...lelo...lelo...lelo...legung.....”, tembang indah itu sejenak terhenti.  Bukan hanya sejenak, namun untuk selamanya.

Kartini masih ingat saat-saat terakhir itu, saat dirinya yang masih lucu berkepang dua didekap hangat dalam pangkuan Ibu. Dalam kehangatan yang terakhir. Terakhir untuk selamanya, terakhir yang tak akan terulang kembali.
***
“Ibu...ibu...lihat ini! Coba tebak, Kartini  bawa apa buat Ibu?”

“Emm...pisang goreng ya? Atau jangan-jangan...”, Ibu tidak melanjutkan kalimatnya.

“Jangan-jangan apa, bu?”

“Ibu tahu, kamu pasti tadi naik kelas tho? Iya kan?  Ibu pasti benar!”

“Iya...ti naik kelas. Bukan cuma itu lho, ti juga dapet piala dari Ibu Guru. ti juara satu, Bu...”, gelak tawa Kartini menghapus segala kepenatan Ibu hari ini. Tawa canda mereka beriring semenjak pintu masuk hingga ruang makan yang pengap itu.

Tuhan, lihatlah betapa gadis kecil itu hanya dari keluarga sederhana. Lihatlah betapa tak layak huniannya. Lihatlah segala isi rumahnya. Apakah itu yang Kau namakan keadilan-Mu, Kartini yang malang dengan segala kehidupannya. Kartini yang belajar tanpa sependar cahaya-Mu, tanpa sebuah meja kokoh yang menopang buku-bukunya, Kartini yang belajar di atas tanah lembab nan pengap. Tapi lihatlah, dengan segala kesederhanaannya bintang-bintangpun senantiasa mengiringinya. Bintang-bintang yang membawa segenap benang Ibu yang terajut pada-Mu, menghantarkan setiap kalimatnya. Lihatlah, Kartini hari ini sukses di sekolahnya berkat segala kegigihannya. Juga berkat ridho-Mu.

“Emm...Ibu bakal masakin makanan yang enaaaaakkkkk banget buat kamu ti. Kamu mau makan apa? Sayur asem? Nasi goreng? Atau......”

“Nggak usah bu, ti cukup makan nasi aja! Hehehe”

“Kanu itu ndhuk, kalau Ibu tawarin hadiah pasti nolak. Karena hadiah Ibu nggak mahal ya?”

“Ya ampun.....Ibu ikut senang aja, ti juga seneng kok. Apalagi punya Ibu yang baik banget. Itu hadiah paling mewah yang ti punya”

“Kamu ini bisa aja”
***
Malam kian gelap. Sang Surya telah berkelana entah kemana, meninggalkan Kartini sendiri malam itu.

Seperti biasa Kartini menggelartikar pandan di atas tanah lembab itu. Tangannya mengengam seutas api yang berkobar. Malam itu Kartini belajar diiringi tawa api yang berpadu di sebuah wadah bekas keleng susu. Bukan suatu yang mengenaskan, Kartini sudah biasa melakukan ini. Bahkan sudah sejak bertahun-tahun malam sebelumnya.

“Ini dikalikan ini sama dengan...yes, ketemu...hore!”

“Ada apa ti? Kok malam-malam teriak keras banget. Ntar dikira tetangga kamu kenapa-kenapa lagi”

“Eu..eu! Ti nggak kenapa-kenapa kok Bu, ti cuma lagi belajar aja”

“O...alah, lagi belajar tho ti!”
“Iya, Bu”

Kartini terus melanjutkan belajarnya, malam kian larut dan Kartini juga mulai mengantuk. Tanpa sepengetahuannya, dari tadi Ibu mengawasinya dari balik tirai spanduk iklan kartu seluleryang menutupi kamar Ibu dengan ruang tamu. Ibu kini melangkah menghampiri Kartini. Ibu mengusap rambut putri tunggalnya yang amat dicintai.

“O..Ibu, ada apa tho kok kesini? Ibu belum tidur? Sudah malam, Bu!”

“Iya..nanti Ibu tidur setelah kamu selesai belajarnya”

“Ti ganggu Ibu lagi tidur ya? Ya sudah, ti selesai sekarang belajarnya ya Bu. Biar Ibu bisa tidur nyenyak”

“Ndak...ndak...kamu lanjutkan saja belajarmu ti! Lagian Ibu juga ndak keganggu kok! Ibu Cuma prihatin saja sama kamu ti, kamu belajar ndak pakai listrik. Andai Ibu bisa cari uang yang banyak, Ibu pasti akan masang listrik ti, biar kamu belajarnya ndak susah lagi”

“Ha...ha...ha”, Kartini hanya tertawa.

“Siapa bilang ti susah belajarnya Bu. Ti malah seneng bisa belajar pakai lampu minyak ini. Harusnya kita malah bersyukur, masih banyak anak-anak di luar sana yang malahan nggak bisa sekolah kaya ti, Bu!”

Tuhan, hati Ibu mana yang tidak terharu ketika buah hatinya mengucapkan kalimat itu dari mulutnya sendiri. Jujur, aku benar-benar di buat iri oleh Kartini yang memiliki hati sejuk seperti butiran embun yang terkumpul di puncak Himalaya. Ibu berusaha menahan air matanya. Tapi tetesan itu tetap saja mengalir di pelupuk matanya.

“Ibu nangis?”

“Ndak, Ibu Cuma kelilipan aja kok! Udah ti, kamu lanjutkan saja belajarmu ya ndhuk!”

“Iya Bu.....ini dari tadi juga lagi balajar!”

Meski dalam hati Ibu menangis namun air muka Ibu tetap menunjukan kebahagian dari dalam lubuk hatinya. Hati terdalam yang sangat dalam yang dimiliki Ibu dimanapun di seluruh dunia. Ibu yang selalu berdiri untuk cinta, cintanya kepada Kartini.
***
Itu sudah sepuluh tahun yang lalu, sekarang Kartini adalah wanita tangguh. Berani melawan mimpi untuk membuat semunya nyata. Kartini bukan lagi kelasi rendahan yang selalu dipandang sebelah mata.

Namun untuk hari ini biarkan dia menangis. Biarkan sekali ini saja dia menangis. Mengenang Ibu untuk yang terakhir kalinya. Hari ini Ibu meninggal, hari ini pula Ibu dimakamkan. Lihatlah Kartini sekarang! Wanita tangguh yang tumbuh karena cinta seorang Ibu. Ini saat-saat terakhir kebersaamannya bersanding dengan Ibu. Biarkan dia menangis, mengeluarkan air mata terima kasih untuk Ibu. Ibu yang selama ini selalu berjuang melawan kerasnya sendiri untuk kartini, Ibu yang melukai tangannya sendiri karena kerja kerasnya untuk Kartini. Semua itu Tuhan telah membalasnya, Kartini sekarang orang besar. Biarkanlah sekali ini saja, biarkan dia kembali merasa lebih dekat pada Ibu sekali ini saja.


P.S. : eniwei, ini sebenernya belom kelar man! tapi gue kelar-kalerin aja, abis capek mau nglanjutin, ide buntung gara-gara keinget tugas SIMAK, PIN, belom belajar Mankeu, belom bikin PR Cost juga pula! tapi ya tetep SELAMAT HARI KARTINI!

Terus Berkarya untuk Sang Saka Wahai Kartini Muda!
NB : ini foto kakel paskib gw jaman SMA hehe xp


Kamis, 16 Februari 2012

Ilmu Diklat Kepenulisan

0



Penulisan adalah hal paling mendasar dalam jurnalisme, menyangkut tentang berita apa yang akan dituliskan dan disampaikan. Fungsi dari jurnalistik sendiri sebenarnya adalah sebagai alat yang dapat digunakan untuk media kontrol, sehingga berita yang disajikan dapat digunakan pula sebagai suatu pertimbangan yang dapat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Karena hal itu lah suatu berita harus memilki nilai verifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan. 

Ketika melakukan penulisan suatu berita ada dua hal utama yang selalu terkandung di dalamnya, yaitu fakta dan opini. Fakta adalah suatu gambaran nyata yang terjadi sehigga kebanyakan orang telah mengetahui itu, sedangkan opini adalah semacam argumen atau pendapat prbadi dalam menanggapi suatu masalah atau isu yang diangkat. Karena berita yang baik harus bisa menjadi alat kontrol maka sebisa mungkin dalam penulisannya lebih banyak menyajikan fakta-fakta yang ada. Dengan menyajikan fakta yang lebih banyak maka akan terlihat jelas kredibilitas suatu berita tersebut. Namun, bukan berarti bahwa penulisan yang lebih banyak mengandung unsur opini penulisnya adalah hal yang salah. Hal itu bisa saja tidak menjadi masalah ketika hasilnya disajikan dalam rubrik opini, karena dalam rubrik opini setiap orang berhak menyampaikan pendapatnya dengan batasan-batasan beretika yang baik tentunya.

Penyajian penulisan berita yang baik biasanya dapat kita lihat dengan menggunakan rumus piramida terbalik. Maksud dari hal tersebut adalah menyajikan hal-hal pokok yang merupakan masalah utama dari suatu berita pada awal penulisan. Beberapa kalimat utama dalam awal berita merupakan merupakan inti dari berita yang akan disajikan tersebut. Selanjutnya hal-hal yang kurang berbobot atau yang lebih merinci dapat disajikan sebagai pelengkap pada paragraf-paragraf selanjutnya.