“Tak...lelo...lelo...lelo...legung.....”, tembang indah itu sejenak terhenti. Bukan hanya sejenak, namun untuk selamanya.
Kartini masih ingat saat-saat terakhir itu, saat dirinya yang masih lucu berkepang dua didekap hangat dalam pangkuan Ibu. Dalam kehangatan yang terakhir. Terakhir untuk selamanya, terakhir yang tak akan terulang kembali.
***
“Ibu...ibu...lihat ini! Coba tebak, Kartini bawa apa buat Ibu?”
“Emm...pisang goreng ya? Atau jangan-jangan...”, Ibu tidak melanjutkan kalimatnya.
“Jangan-jangan apa, bu?”
“Ibu tahu, kamu pasti tadi naik kelas tho? Iya kan? Ibu pasti benar!”
“Iya...ti naik kelas. Bukan cuma itu lho, ti juga dapet piala dari Ibu Guru. ti juara satu, Bu...”, gelak tawa Kartini menghapus segala kepenatan Ibu hari ini. Tawa canda mereka beriring semenjak pintu masuk hingga ruang makan yang pengap itu.
Tuhan, lihatlah betapa gadis kecil itu hanya dari keluarga sederhana. Lihatlah betapa tak layak huniannya. Lihatlah segala isi rumahnya. Apakah itu yang Kau namakan keadilan-Mu, Kartini yang malang dengan segala kehidupannya. Kartini yang belajar tanpa sependar cahaya-Mu, tanpa sebuah meja kokoh yang menopang buku-bukunya, Kartini yang belajar di atas tanah lembab nan pengap. Tapi lihatlah, dengan segala kesederhanaannya bintang-bintangpun senantiasa mengiringinya. Bintang-bintang yang membawa segenap benang Ibu yang terajut pada-Mu, menghantarkan setiap kalimatnya. Lihatlah, Kartini hari ini sukses di sekolahnya berkat segala kegigihannya. Juga berkat ridho-Mu.
“Emm...Ibu bakal masakin makanan yang enaaaaakkkkk banget buat kamu ti. Kamu mau makan apa? Sayur asem? Nasi goreng? Atau......”
“Nggak usah bu, ti cukup makan nasi aja! Hehehe”
“Kanu itu ndhuk, kalau Ibu tawarin hadiah pasti nolak. Karena hadiah Ibu nggak mahal ya?”
“Ya ampun.....Ibu ikut senang aja, ti juga seneng kok. Apalagi punya Ibu yang baik banget. Itu hadiah paling mewah yang ti punya”
“Kamu ini bisa aja”
***
Malam kian gelap. Sang Surya telah berkelana entah kemana, meninggalkan Kartini sendiri malam itu.
Seperti biasa Kartini menggelartikar pandan di atas tanah lembab itu. Tangannya mengengam seutas api yang berkobar. Malam itu Kartini belajar diiringi tawa api yang berpadu di sebuah wadah bekas keleng susu. Bukan suatu yang mengenaskan, Kartini sudah biasa melakukan ini. Bahkan sudah sejak bertahun-tahun malam sebelumnya.
“Ini dikalikan ini sama dengan...yes, ketemu...hore!”
“Ada apa ti? Kok malam-malam teriak keras banget. Ntar dikira tetangga kamu kenapa-kenapa lagi”
“Eu..eu! Ti nggak kenapa-kenapa kok Bu, ti cuma lagi belajar aja”
“O...alah, lagi belajar tho ti!”
“Iya, Bu”
Kartini terus melanjutkan belajarnya, malam kian larut dan Kartini juga mulai mengantuk. Tanpa sepengetahuannya, dari tadi Ibu mengawasinya dari balik tirai spanduk iklan kartu seluleryang menutupi kamar Ibu dengan ruang tamu. Ibu kini melangkah menghampiri Kartini. Ibu mengusap rambut putri tunggalnya yang amat dicintai.
“O..Ibu, ada apa tho kok kesini? Ibu belum tidur? Sudah malam, Bu!”
“Iya..nanti Ibu tidur setelah kamu selesai belajarnya”
“Ti ganggu Ibu lagi tidur ya? Ya sudah, ti selesai sekarang belajarnya ya Bu. Biar Ibu bisa tidur nyenyak”
“Ndak...ndak...kamu lanjutkan saja belajarmu ti! Lagian Ibu juga ndak keganggu kok! Ibu Cuma prihatin saja sama kamu ti, kamu belajar ndak pakai listrik. Andai Ibu bisa cari uang yang banyak, Ibu pasti akan masang listrik ti, biar kamu belajarnya ndak susah lagi”
“Ha...ha...ha”, Kartini hanya tertawa.
“Siapa bilang ti susah belajarnya Bu. Ti malah seneng bisa belajar pakai lampu minyak ini. Harusnya kita malah bersyukur, masih banyak anak-anak di luar sana yang malahan nggak bisa sekolah kaya ti, Bu!”
Tuhan, hati Ibu mana yang tidak terharu ketika buah hatinya mengucapkan kalimat itu dari mulutnya sendiri. Jujur, aku benar-benar di buat iri oleh Kartini yang memiliki hati sejuk seperti butiran embun yang terkumpul di puncak Himalaya. Ibu berusaha menahan air matanya. Tapi tetesan itu tetap saja mengalir di pelupuk matanya.
“Ibu nangis?”
“Ndak, Ibu Cuma kelilipan aja kok! Udah ti, kamu lanjutkan saja belajarmu ya ndhuk!”
“Iya Bu.....ini dari tadi juga lagi balajar!”
Meski dalam hati Ibu menangis namun air muka Ibu tetap menunjukan kebahagian dari dalam lubuk hatinya. Hati terdalam yang sangat dalam yang dimiliki Ibu dimanapun di seluruh dunia. Ibu yang selalu berdiri untuk cinta, cintanya kepada Kartini.
***
Itu sudah sepuluh tahun yang lalu, sekarang Kartini adalah wanita tangguh. Berani melawan mimpi untuk membuat semunya nyata. Kartini bukan lagi kelasi rendahan yang selalu dipandang sebelah mata.
Namun untuk hari ini biarkan dia menangis. Biarkan sekali ini saja dia menangis. Mengenang Ibu untuk yang terakhir kalinya. Hari ini Ibu meninggal, hari ini pula Ibu dimakamkan. Lihatlah Kartini sekarang! Wanita tangguh yang tumbuh karena cinta seorang Ibu. Ini saat-saat terakhir kebersaamannya bersanding dengan Ibu. Biarkan dia menangis, mengeluarkan air mata terima kasih untuk Ibu. Ibu yang selama ini selalu berjuang melawan kerasnya sendiri untuk kartini, Ibu yang melukai tangannya sendiri karena kerja kerasnya untuk Kartini. Semua itu Tuhan telah membalasnya, Kartini sekarang orang besar. Biarkanlah sekali ini saja, biarkan dia kembali merasa lebih dekat pada Ibu sekali ini saja.
P.S. : eniwei, ini sebenernya belom kelar man! tapi gue kelar-kalerin aja, abis capek mau nglanjutin, ide buntung gara-gara keinget tugas SIMAK, PIN, belom belajar Mankeu, belom bikin PR Cost juga pula! tapi ya tetep SELAMAT HARI KARTINI!
 |
Terus Berkarya untuk Sang Saka Wahai Kartini Muda!
NB : ini foto kakel paskib gw jaman SMA hehe xp |